LINTASPONTIANAK. Pontianak – Wacana pemberian gelar pahlawan nasional kepada Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, kembali menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Isu tersebut menimbulkan pro dan kontra yang cukup tajam di berbagai kalangan, baik di ruang publik maupun di media sosial.
Sebagian masyarakat menilai Soeharto layak diberi gelar pahlawan karena dinilai berhasil membawa Indonesia pada masa stabilitas ekonomi dan pembangunan infrastruktur yang pesat. Namun, tak sedikit pula yang menolak, dengan alasan adanya catatan kelam pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan praktik korupsi, kolusi, serta nepotisme (KKN) selama era Orde Baru.
Menanggapi situasi tersebut, Fadli Raharjo, Wakil Sekretaris Umum Bidang Kajian dan Analisis Isu Lokal (KAIL) HMI Cabang Pontianak Memberikan Solusi
1. Diskusi Uji Kelayakan Publik Terkait Isu gelar pahlawan Terhadap Soeharto
2. Menyusun Basis Data Fakta Historis
3. Membentuk Tim Analisis Independen
Menurut Fadli, perdebatan mengenai sosok Soeharto seharusnya tidak dilihat hanya dari sisi hitam atau putih. Ia menegaskan pentingnya pendekatan yang objektif, ilmiah, dan historis, agar penilaian terhadap tokoh bangsa tidak terjebak dalam fanatisme atau kebencian semata. Maka HMI mengajak semua pihak untuk melihat ini dengan kacamata sejarah, bukan emosi,” ujar Fadli Raharjo saat ditemui di Pontianak, Minggu (10/11).
Fadli menambahkan bahwa HMI Cabang Pontianak melalui bidang KAIL tengah menyiapkan forum diskusi terbuka bertajuk “Menimbang Ulang Warisan Soeharto: Antara Pahlawan dan Pelanggaran”. Kegiatan ini akan melibatkan akademisi, aktivis, dan mahasiswa lintas kampus di Pontianak sebagai ruang refleksi bersama.
“Solusinya bukan memperdebatkan gelar, tapi memperdalam pemahaman sejarah. Dengan begitu, kita bisa mengambil pelajaran dan memperbaiki bangsa ke depan,” tambahnya.
Dengan sikap moderat dan rasional tersebut, HMI Cabang Pontianak berupaya menjadi jembatan dialog di tengah polarisasi opini publik. Pendekatan berbasis kajian dan dialog yang ditawarkan diharapkan dapat menghadirkan suasana diskursus yang sehat, jauh dari provokasi dan kepentingan politik jangka pendek.
Penulis : Ilyas ganteng
Editor : kangipul














