Momentum 254 Tahun Kota Pontianak: Menapaki Warisan Sultan, Menyongsong Kota Ramah dan Sejahtera

banner 120x600

PONTIANAK — Dalam nuansa peringatan 254 Tahun berdirinya Kota Pontianak, sebuah pesan penuh makna disampaikan oleh Syarif Usmulyani Alqadrie Pangeran Wiranata Kusuma, tokoh Kesultanan Kadriah Pontianak.

Ia mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan Kota Pontianak sebagai kota yang ramah dan sejahtera, sejalan dengan visi besar para pendahulu.

“Pontianak yang dibangun dahulu oleh Sultan Syarif Abdurrahman bukan sekadar tempat bermukim, melainkan sebuah anchor city, pusat arus politik dan perdagangan di kawasan utara Nusantara,” ujarnya dengan nada berwibawa, penuh kebanggaan sejarah.

Pontianak: Kota Air yang Menjadi Gerbang Perdagangan Internasional

Sejak awal berdirinya, Pontianak telah dipersiapkan dengan pemikiran visioner. Sultan Syarif Abdurrahman mengembangkan Kerajaan Kadriah Pontianak sebagai pusat budaya, politik, perdagangan, dan kekuasaan, sebuah centre of development yang memperhitungkan analisis peluang dan ancaman eksternal.

Dengan posisi geografis strategis sebagai kota air, Pontianak menjadi simpul penting dalam jalur perdagangan internasional. Selat Malaka dan Tumasik (Singapura) menjadi target utama pelayaran armada dagang Sultan.

Nama Pontianak kala itu disegani oleh Inggris, Prancis, hingga Belanda. Reputasi itu semakin menggaung ketika Kerajaan Kadriah berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan sekitarnya, menjadikan Pontianak dikenal luas hingga ke luar Kalimantan.

Kota Multi-Etnis dengan Dinamika Urban yang Kompleks

Sejak dahulu, Pontianak dihuni oleh berbagai etnis yang hidup berdampingan dalam harmoni. Kini, kota dengan luas hanya 108 km² ini telah berkembang menjadi salah satu kota terpadat di Indonesia, dengan populasi mendekati 700 ribu jiwa.

Namun, pertumbuhan ini juga membawa tantangan serius. Produksi sampah mencapai 400 ton per hari, sementara kepadatan transportasi meningkat tajam—jumlah kendaraan roda dua dan empat terus bertambah, tetapi kapasitas jalan tidak bertambah.

Pangeran Usmulyani menekankan perlunya transportasi umum yang nyaman, aman, dan terjangkau sebagai solusi mengurai kemacetan. Tak hanya itu, kebutuhan akan perumahan, pendidikan berkualitas, lapangan kerja, dan infrastruktur kota harus menjadi fokus utama pemerintah kota.

Membangun Pontianak Modern: Smart City & One Thousand Ditch City

Dalam visinya, Pontianak perlu bergerak cepat mewujudkan “One Thousand Ditch City” dan “Smart City” sebagai kota perdagangan modern. Pemerintah didorong untuk:

  • Menarik investasi dengan memberikan tax holiday dan transparansi regulasi,
  • Meningkatkan sarana dan prasarana jalan serta akses kota,
  • Menjaga kebersihan dan memastikan ketersediaan air bersih bagi seluruh warga,
  • Meningkatkan layanan publik, terutama di bidang kesehatan dan pendidikan.

“Kita butuh revolusi kebijakan dengan konsep, strategi, dan ide-ide baru. Pemimpin kota harus memiliki gaya wirausaha, karena Pontianak tidak memiliki sumber daya mineral maupun perkebunan besar. Maka yang kita punya adalah visi dan daya juang,” tegasnya.

Menatap Masa Depan: Visi Kota Pontianak yang Ramah dan Sejahtera

Sebagai Prince of Istana Kadriah Pontianak, Syarif Usmulyani mengajak seluruh pemangku kebijakan dan masyarakat untuk memiliki mindset yang jelas:

  • What to achieve apa yang ingin dicapai,
  • Where to go ke mana arah pembangunan akan dibawa,
  • Knowing the vision mengetahui tujuan besar Pontianak ke depan.

“Jayalah Kota Pontianak. Semoga momentum 254 tahun ini menjadi titik tolak untuk menata kota menjadi lebih ramah, sejahtera, dan membanggakan,” tutupnya dengan nada penuh harapan.

 

banner 325x300