BoikotTrans7 Trending, Publik Geram Tayangan XPOSE Dinilai Lecehkan Santri dan Pesantren

banner 120x600

PONTIANAK – Dunia maya tengah diguncang gelombang kritik terhadap salah satu stasiun televisi nasional, Trans7. Tagar #BoikotTrans7 kini ramai berseliweran di berbagai platform media sosial, terutama di TikTok dan Instagram, setelah program XPOSE menayangkan episode dengan judul yang dinilai provokatif “Santrinya minum susu aja kudu jongkok, emang gini kehidupan di pondok?”

Tayangan berdurasi singkat itu sontak menyulut emosi publik, khususnya dari kalangan santri, kiai, dan masyarakat pesantren. Potongan video yang viral dianggap telah menyinggung martabat serta menggambarkan dunia pesantren dengan cara yang tidak pantas.

Sejumlah warganet menilai, meski mungkin dimaksudkan sebagai kritik sosial, penyajian konten tersebut justru tampak tidak berimbang dan menyudutkan kehidupan pesantren. Narasinya dinilai membuka ruang salah tafsir terhadap dunia pendidikan berbasis agama yang selama ini dikenal menjunjung tinggi kesederhanaan dan adab.

“Kalau memang mau mengkritik, seharusnya tidak dengan mengolok-olok simbol kehidupan santri,” tulis seorang pengguna X (Twitter).

Isu ini makin sensitif lantaran dalam beberapa waktu terakhir, media sosial kerap diwarnai pemberitaan yang “menggoreng” isu santri dan pondok pesantren tanpa data yang valid. Tak heran jika publik merasa lelah dan tersinggung, hingga akhirnya menyerukan aksi boikot terhadap stasiun televisi tersebut.

Di Instagram, akun @santrimelawan mengunggah video disertai tulisan besar “BOIKOT!!! Trans7 yang telah menghina kiai dan santri.” Unggahan itu segera dibanjiri komentar dan dukungan dari ribuan pengguna lain.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kalangan santri kini semakin melek digital dan mampu bersuara lewat ruang publik maya untuk menjaga kehormatan lembaganya. Tagar #BoikotTrans7 pun menjadi bentuk solidaritas sekaligus kritik terhadap cara media dalam menyajikan konten yang menyentuh nilai-nilai keagamaan.

Desakan agar Trans7 segera memberikan permintaan maaf terbuka kini menggema di media sosial. Banyak pihak berharap lembaga penyiaran nasional dapat lebih berhati-hati dan beretika dalam mengangkat tema sensitif, terutama yang berkaitan dengan nilai keagamaan dan kehidupan pesantren.

Meski sebagian masyarakat menilai program seperti XPOSE bisa menjadi ruang untuk refleksi sosial, namun mereka sepakat bahwa penyajiannya harus proporsional, berimbang, dan menghormati nilai budaya serta agama.

Fenomena #BoikotTrans7 menegaskan bahwa publik kini semakin kritis terhadap isi media, bukan sekadar penikmat pasif. Di era digital, sentimen sosial bisa meledak hanya lewat satu potongan video yang menyinggung aspek moral dan religius.

Bagi industri media, ini menjadi pengingat penting: sensasi tak selalu sepadan dengan empati.
Di sisi lain, masyarakat juga diajak untuk menyaring dan menilai informasi secara bijak, agar kritik tetap berada di jalur yang membangun, bukan merusak.

banner 325x300